Augustinus

Augustinus seorang Afrika Utara. Ia lahir 354 M di Tagaste, sebuah kota kecil akrab kota Karthago, yang letaknya di akrab kota Tunis sekarang. Ibunya Kristen; ayahnya masih menganut agama Romawi kuno. Augustinus memperoleh pendidikan yang baik dan menjadi seorang guru ilmu bicara (rhetor). Sebagai orang muda, ia tertarik kepada aliran Manikeisme, suatu aliran berasal dari Persia yang ajarannya dualistik. Aliran ini menyatakan bahwa realitas terdiri atas dua prinsip dasar: yang baik, yaitu cahaya, Allah, atau roh, dan yang jahat, kegelapan atau materi. Saat berumur 28 tahun, ia pindah ke Roma. Di situ ia melepaskan Manikeisme. Sesudah selama beberapa waktu menganut skeptisisme, ia berkenalan dengan Neoplatonisme yang amat menarik baginya. Ia pindah ke Milano dan di situ, di bawah efek uskup Ambrosius, Augustinus dibaptis, kemudian pulang ke Afrika.
Ia dipilih menjadi uskup di kota Hippo. Itulah waktu ia, di samping tugas-tugasnya sebagai gembala umat, akan banyak mengarang goresan pena dalam bidang spiritual dan teologi. Karya utama Augustinus yaitu Confessiones (“Pengakuan”), otobiografi pertama yang dikenal sebagai sejarah sastra, dan De Civitate Dei (“Tentang Komunitas Allah”), yang ditulisnya di bawah kejutan penjarahan kota Roma oleh pasukan suku Got pada tahun 410. Ia meninggal pada tahun 430 pada waktu kota Hippo sudah dikepung oleh pasukan Vandal, sebuah suku barbar Jerman yang telah menaklukkan Spaniol Selatan dan Afrika Utara. Dapat dikatakan bahwa Augustinus bangun di senja alam Romawi dan membuka pandangan ke masa pasca kekaisaran Roma.

Augustinus sekaligus seorang filsuf dan teolog. Ia mencari sintesis antara rasionalitas Yunani dan doktrin Kristiani. Meskipun doktrin Kristiani dan refleksi filosofis menyatu secara tak terpisahkan dalam Augustinus, apa yang ditulisnya bukan hanya penting bagi teologi Kristiani, melainkan juga merupakan pemberian kepada pemikiran filosofis, melampaui umat seimannya. Dengan Augustinus kita memasuki zaman yang lain dari alam Yunani-Helenis etika-etika sebelumnya. Bukan hanya Kekaisaran Romawi sudah usang melewati puncaknya (hanya 45 tahun sehabis janjkematian Augustinus penggalan baratnya akan mengalami pukulan terakhir dari tangan suku Got, salah satu dari suku-suku liar Jerman yang menjelajahi seluruh Eropa waktu itu), tetapi terutama sebab Augustinus seorang Kristen. Selama lebih dari seribu tahun, doktrin Kristiani akan mewarnai budaya pemikiran di Eropa. Augustinus sendiri dalam Gereja dianggap sebagai orang yang suci, sebab itu disebut Santo Augustinus. Sekaligus ia salah satu dari “guru-guru besar” umat Kristiani. Augustinus menulis dalam bahasa Latin, bukan dalam bahasa Yunani. Pemikirannya betul-betul menguasai teologi di Gereja Barat hingga kala ke-13; semenjak itu pengaruhnya semakin akan diimbangi oleh pemikiran Thomas Aquinas*. Namun, hingga hari ini Augustinus tetap termasuk pemikir paling kuat dalam budaya Kristiani Barat, terutama dalam banyak sekali aliran Protestantisme.

Sumber
Suseno, Franz Magnis. 1996. 13 Tokoh Etika; Sejak Zaman Yunani Sampai Abad Ke-19. Kanisius. Jogjakarta 


Download

Baca Juga
1. Augustinus. Kebahagiaan dan Transendensi
2. Augustinus. Menyatunya Nilai Objektif dan Subjektif Tertinggi
3. Augustinus. Hukum Ilahi dan Dinamika Batin Manusia
4. Augustinus. Tekanan pada Kehendak
5. Augustinus. Keutamaan dan Rahmat
6. Augustinus. Komunitas Allah, Komunitas Dunia

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel