Ralf Dahrendorf. Teori Konflik Sosial

Teori konflik sanggup dilihat sebagai suatu perkembangan yang terjadi terkait dengan, setidaknya sebagian, fungsionalisme struktural dan merupakan hasil dari banyak kritik terhadapnya. Akan tetapi, harus dicatat bahwa teori konflik memiliki banyak sekali akar lain, menyerupai teori Marxian dan Weberian dan karya Simmel* mengenai konflik sosial (Sanderson, 2007; J. Turner, 2005). Pada tahun 1950-an dan 1960-an, teori konflik menunjukkan suatu alternatif bagi fungsionalisme struktural, tetapi dia digantikan oleh aneka teori Marxian. Sebenarnya, salah satu pertolongan utama teori konflik ialah caranya meletakan dasar bagi teori-teori yang lebih setia kepada karya Marx*, teori-teori yang menarik audiens yang luas di dalam sosiologi. Masalah utama dengan teori konflik ialah bahwa dia tidak pernah berhasil memisahkan diri secara memadai dari akar-akar fungsional-strukturalnya. Ia lebih berupa sejenis fungsionalisme struktural yang menyala di kepalanya daripada suatu teori masyarakat yang benar-benar kritis.

Seperti para fungsionalis, teori-teori konflik diorientasikan ke arah studi mengenai struktur-struktur dan lembaga-lembaga sosial. Pada umumnya, teori tersebut lebih sedikit dari sekedar serangkaian pendirian teoretis yang kerap bertentangan secara eksklusif dengan pendirian-pendirian fungsionalistis. Antitesis itu dicontohkan paling baik oleh karya Ralf Dahrendorf* (1958, 1959; lihat juga Strasser dan Nollman, 2005), dikala ajaran-ajaran teori konflik dan fungsional dijajarkan. Bagi kaum fungsionalis, masyarakat statis atau, paling jauh, dalam keseimbangan yang bergerak, tetapi bagi Dahrendorf* dan para teoretisi konflik, setiap masyarakat pada setiap titik tunduk kepada proses-proses perubahan. Di mana kaum fungsionalis menekankan ketertiban masyarakat, para teoretisi konflik melihat pertikaian dan konflik ada pada setiap titik di dalam sistem sosial. Kaum fungsionalis (atau setidaknya para fungsionalis awal) berargumen bahwa setiap unsur di dalam masyarakat menyumbang bagi stabilitas; pelopor teori konflik melihat bahwa banyak unsur masyarakat merupakan penyumbang disintegrasi dan perubahan.

Kaum fungsionalis cenderung masyarakat diikat bersama secara informal oleh norma-norma, nilai-nilai, dan moralitas bersama. Para teoretisi konflik melihat setiap ketertiban yang ada di dalam masyarakat berasal dari pemaksaan sejumlah anggota masyarakat oleh orang-orang yang berada di puncak. Sementara kaum fungsionalis berfokus pada kohesi yang diciptakan oleh nilai-nilai bersama masyarakat, para teoretisi konflik menekankan tugas kekuasaan dalam memelihara tatanan di dalam masyarakat.

Dahrendorf* (1959, 1968) ialah pendukung utama pendirian bahwa masyarakat memiliki dua wajah (konflik dan konsensus) dan oleh sebab itu teori sosiologis harus dipecah ke dalam dua bagian, teori konflik dan teori konsensus. Para teoretisi konsensus harus mengkaji nilai integrasi di dalam masyarakat, dan teoretisi konflik harus mengkaji kesatuan masyarakat di dalam menghadapi tekanan-tekanan itu. Dahrendorf* menyadari bahwa masyarakat tidak sanggup ada tanpa konflik dan konsensus, keduanya merupakan prasyarat satu sama lain. Oleh sebab itu, tidak akan ada konflik kalau tidak ada konsensus yang mendahuluinya. Contohnya, para ibu rumah tangga Prancis sangat tidak menyukai konflik dengan para pemain catur orang Chile sebab di antara mereka tidak ada kontak, tidak ada integrasi sebelumnya yang berfungsi sebagai dasar bagi suatu konflik. Sebaliknya, konflik sanggup menimbulkan konsensus dan integrasi. Contohnya, aliansi antara Amerika Serikat dan Jepang yang berkembang sesudah Perang Dunia II.


Meskipun ada antar korelasi antara konsensus dan konflik, Dahrendorf* tidak optimis akan kemungkinan untuk menyebarkan suatu teori sosiologis tunggal yang meliputi kedua proses itu: “Tampaknya setidaknya sanggup dibayangkan bahwa penyatuan teori mustahil sampai titik yang telah membingungkan para pemikir semenjak permulaan filsafat Barat” (1959:164). Menjauhkan diri dari teori tunggal, Dahrendorf* mulai membangun suatu teori konflik masyarakat.

Dahrendorf mulai dengan dan sangat dipengaruhi oleh, fungsionalisme struktural. Dia mencatat bahwa bagi sang fungsionalis, sistem sosial dipersatukan oleh kolaborasi sukarela atau konsensus umum atau keduanya. Akan tetapi, bagi teoretisi konflik (atau paksaan), masyarakat dipersatukan oleh “pembatasan yang dipaksakan”; dengan demikian, beberapa posisi di masyarakat merupakan kekuasaan dan otoritas yang didelegasikan kepada orang lain. Fakta kehidupan sosial tersebut membawa Dahrendorf* kepada tesis sentralnya bahwa distribusi otoritas yang diferensial “selalu menjadi faktor penentu konflik-konflik sosial sistematik” (1959:165).


Download di Sini


Sumber.
Ritzer, George. 2012. Teori Sosiologi; Dari Sosiologi Klasik Sampai Perkembangan Terakhir Postmodern. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.


Baca Juga
1. Ralf Dahrendorf. Biografi
2. Ralf Dahrendorf. Strukturalisme Konflik 
3. Ralf Dahrendorf. Kelompok, Konflik, dan Perubahan
4. Ralf Dahrendorf. Otoritas
5. Bentuk-Bentuk Konflik Sosial Menurut Para Sosiolog

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel